Wednesday, April 23, 2014

Annelida

Annelida berasal dari kata annulus yang berarti cincin yang memiliki 15.000 spesies modern, termasuk diantaranya adalah cacing tanah dan lintah. Annelida dapat ditemukan di sebagian besar lingkungan basah, seperti air tawar dan di laut. Panjang tubuhnya mulai dari di bawah satu milimeter sampai dengan tiga meter. Filum ini dikelompokkan menjadi tiga kelas yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea.

Ciri-ciri annelida

  1. Hewan triploblastik, selomata (sudah terdapat selom sejati).
  2. Tubuh bersegmen (disebut metameri) memiliki sistem saraf, pencernaan, reproduksi dan sistem ekskresi.
  3. Tiap segmen tubuhnya dibatasi oleh sekat yang disebut septa.
  4. Organ-organ ekskresi terdiri atas nefridia (saluran), nefrostom (corong) dan nefrotor (pori tempat keluarnya kotoran).
  5. Memiliki sistem peredaran darah tertutup dan sistem saraf tangga tali.
  6. Berkembang biak secara kawin melalui fertilisasi dan secara tak kawin melalui proses fragmentasi.
  7. Meskipun termasuk hewan hermafrodit (berkela-min ganda), proses pembuahan tetap harus dilakukan oleh dua individu dengan saling memberikan sp***ma yang disimpan di dalam reseptakulum seminalis.

Klasifikasi annelida

Filum annelida diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu:
  1. Polychaeta. Pada tubuh cacing ini dijumpai banyak rambut dan tiap segmen tubuhnya dilengkapi dengan parapodia (semacam kaki yang terdapat pada sisi kanan dan kiri tubuhnya). Contoh: Nereis virens, Eunice viridis (cacing wawo), dan Lysidice oele (cacing palolo).
  2. Oligochaeta. Cacing ini memiliki rambut yang sedikit, tidak memiliki mata dan parapodia. Hidup di darat atau perairan tawar dan bersifat hemaprodit (memiliki ovarium dan tes-tis). Contoh: cacing tanah (Pheretima, Lumbricus terrestris).
  3. Hirudinea. Anggota cacing ini tidak memiliki rambut, parapodia. dan septa. Termasuk cacing penghisap darah. Contoh: lintah (Hirudo medicinalis), pacet (Haemadipsa javanica).

Nematoda



Nematoda terdiri dari bebearpa ordo sebagai berikut:

Cacing gelang (Ascaris lumbrricoides)

Hidup pada usus manusia, bersifat kosmopolit (terdapat disemua tempat). Dinding tubuh tersusun dari kutikula, epidermis dan lapisan otot yang memanjang dimana terdapat saluran eksresi lateral, tali syaraf dorsal dan ventral yang dihubungkan oleh cincin syaraf anterior, bentuk tubuh bulat panjang dengan bagian ujung-ujung yang meruncing. panjang tubuh cacing betina ± 0,5 cm, sedangkan cacing  jantan 1,5-2,4 cm, mulut terlatak diujung anterior dan dilengkapi dengan tiga buah bibir, tubuh cacing betina relative lebih lurus, sedangkan cacing jantan memiliki ujung posterior yang menggulung, makanannya berupa sari-sari makanan, saluran pencernaan makanan terdiri dari atas : mulut, faring, usus dan anus. Cacing gelang (Ascaris lumbrriciodes) menyebabkan penyakit yang dikenal dengan ascariasis. Contoh: Ascaris prasit dalam usus manusia, Ascaris megalocaphala parasite dalam usus kuda, Ascaris suilae parasite dalam usus halus babi.

Daur hidup cacing gelang,  telur yang sudah dibuahi keluar kealam bebas bersama feses. Apabila telur tertelan bersama makanan atau minuman, maka didalam usus telur ini akan menetas menjadi larva, setelah itu tumbuh menjadi cacing dewasa.

Cacing tambang (Anylostoma)

Hidup parasite diusus manusia dan banyak dijumapai pada daerah pertambangan, terutama di daerah beriklim panas.  Cacing ini menghisap darah sehingga dapat mengakibatkan kematian, pada saat menghisap darah, cacing ini mengeluakan zat anti koagulan (hirudin) yang mencegah terjadinya pembekuan darah. Panjang tubuh kurang lebih 1-1,5cm pada manusia. Contoh cacing tambang adalah ancylostoma duodenale yang terdapat didaerah tropis Afrika dan Asia dan Necator americanus yang terdapat di Amerika.

Daur hidup cacing tambang, cacing dewasa merupakan ektoparasit dalam usus halus manusia. Telur cacing dapat keluar bersama feses manusia, telur yang sudah dibuahi akan menetas dan dalam waktu sehari mengahasilkan larva filariform. Larva ini dapat menembus kulit, bersama aliran darah,  sampai ke jantung dan paru-paru, setelah itu masuk lagi ke usus halus dan tumbuh menjadi dewasa. 

Cacing kremi (Enterobius vermicularis)

Hidup dalam usus besar manusia, panjang tubuh antara 9-15mm. pada saat bertelur, cacing menuju anus untuk memperoleh oksigen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Gerakan cacing ini dapat menyebabkan rasa gatal di bagian anus. Tubuh yang terkena infeksi cacing ini dapat mengandung 5000 cacing. Contoh: Oxyuris equi pada dubur kuda atau keledai.

Cacing filaria (Wuchereria bancrofti)

Cacing filaria mempunyai inang perantara hewan arthropoda, misalnya nyamuk, dan inang tetap yaitu manusia pada bagian pembuluh getah bening. Apabila cacing filaria mati menyumbat pembuluh getah bening, maka menyebabkan pembengkakan atau terjadinya penyakit elephantiasis (kaki gajah). Mikrofilaria dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk culex.

Cacing otot (Trichinella spiralis)

Cacing ini menyebabkan penyakit trichinosis pada manusia, babi atau tikus. Cacing tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui daging babi yang dimasak kurang matang. Dalam usus manusia, larva berkembang biak menjadi cacing muda selanjutnya menjadi cacing dewasa. Untuk mencegah terinfeksi oleh cacing ini, daging harus dimasak sampai matang untuk mematikan cacing muda.

Heterodera radicola 

Hidup parasit pada akar tanaman, menyebabkan bengkak pada tanaman.

Plathyhelminthes

Platyhelminthes disebut juga cacing pipih (platy berarti pipih dan helminthes berarti cacing)
a.   Ciri-Ciri Platyhelminthes
  • Bentuk tubuh pipih, simetri bilateral, triploblastik, dan acoelomata.
  • Tubuhnya terdiri atas bagian kepala (anterior), ekor (posterior), bagian punggung (dorsal), bagian perut (ventral), dan bagian samping (lateral).
  • Sistem pencernaan makanan belum sempurna, terdapat mulut dan belum memiliki anus. Makanan masuk melalui mulut —> farink —> usus —> dan dikeluarkan melalui mulut.
  • Belum memiliki sistem respirasi. Masuknya oksigen (O2)dan keluarnya karbon dioksida (CO2) melalui permukaan kulit.
  • Sistem ekskresi tersusun atas sel-sel bersilia ( flame cells /aster / sel api ).
  • Susunan syaraf  terdiri  atas 2 ganglia yang  berbentuk cincin membentuk tangga tali.
  • Reproduksi secara  seksual dan aseksual. Secara seksual dilakukan dengan  perkawinan silang atau perkawinan sendiri, karena  bersifat hermaprodit (monoceus). Secara aseksual dengan  fragmentasi dan membentuk generasi baru (regenerasi).
  • Hidup bebas di air tawar maupun tempat–tempat lembab.
b.  Klasifikasi Platyhelminthes
Platyhelminthes terbagi menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria (cacing berambut getar), Trematoda (cacing isap), dan Cestoda (cacing pita).

1)     Kelas Turbellaria (Cacing Berambut Getar)
Ciri dan Karakteristik
  • memiliki struktur tubuh yang bersilia. Silia ini berfungsi sebagai alat gerak. Selain menggunakan silia, hewan dari kelas ini bergerak menggunakan otot tubuhnya yang menyerupai gelombang.
  • memiliki stigma/oseli (bintik mata), yaitu indera yang  peka terhadap rangsang cahaya  dan aurikula (telinga) sebagai indera peraba.
  • tidak memiliki sucker (alat penghisap / pelekat).
  • Sistem syaraf berupa ganglia.
  • sistem pencernakan masih sederhana (mulut, faring, usus), mulut di    bagian ventral.
  • sistem ekskresi berupa sel – sel api (aster/flame sel ).
  • sistem reproduksi secara vegetatif dengan amphigoni dan Memiliki daya regenerasi yang  tinggi (apabila tubuhnya terpotong, setiap potongan dapat tumbuh menjadi individu baru), dan secara  generatif dengan  perkawinan (bersifat hermaprodit).
  • hidup bebas di air tawar dan di tempat yang lembab.
    Contoh :
    Dugesia trigina, Planaria sp (hidup di air tawar yang  tidak berpolusi). Cacing ini dapat digunakan sebagai indikator biologis kemurnian air.
  • 2.) Kelas Trematoda (Cacing Isap) Ciri dan Karakteristik
  • bentuk pipih seperti lembaran daun.
  • memiliki alat penghisap (sucker) di bagian anterior (mulut) dan posterior (ventral tubuh), sehingga bersifat endoparasit atau merugikan.(sucker) yang berfungsi sebagai pengisap cairan tubuh inangnya.
  • tubuh tersusun atas lapisan kutikula yang befungsi melindungi Trematoda dari enzim penghancur yang dikeluarkan oleh organisme inang.
  • tidak memiliki silia (rambut getar).
  • sistem syarat, respirasi, dan ekskresi sama seperti pada Planaria sp.
  • sistem reproduksi secara generatif (bersifat hermaprodit), secara vegetatif dengan cara partenogenesis.
Contoh :
  • Fasciola hepatica,  habitat pada hati hewan ternak (kambing, kerbau, dan sebagainya). bentuk pipih seperti daun, memiliki 2 alat isap, sifat kelamin hermaprodit, dan tidak bersegmen.   Siklus Hidup-nya :cacing dewasa —> telur —> stadium mirasidium  (larva 1)  —> sporocyste —> redia (larva 2) —> sercaria (larva 3) —> metasercaria —> cyste —> cacing dewasa. Cacing dewasa dan telur berkembang dalam tubuh sel inang.  larva 1 – larva 3 berkembang dalam tubuh hospes siput air ( Lymnea sp ) dan ikan, metasercaria dan cyste hidup di alam bebas.
  • Chlonorchis sinensis , habitat di hati manusia. ciri–ciri dan siklus hidupnya sama dengan Fasciola hepatica, dengan  inang perantara Siput (Alocinma sp ) dan ikan air tawar.

  • Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni  ; habitat pada pembuluh darah (vena), sehingga di sebut juga cacing darah. Inang perantaranya adalah Siput (Oncomelanian hupensis). Bersifat sbg parasit ®  menimbulkan penyakit (schistosomiasis)  yang dapat  menyebabkan kerusakan pada hati, jantung, limfa, kantung kemih, dan ginjal.

  • Fasciola buski,  hidup di usus
  • Paragonimus westermani ,  hidup di paru–paru
  • Metagonimus yokogawai ,  hidup dalam usus halus
3.) Kelas Cestoda (Cacing Pita) Ciri dan Karakteristik
  • Bentuk tubuh pipih panjang seperti  pita.
  • Tubuh terbagi atas kepala (scolex), leher (collum), dan tubuh belakang (abdomen).  Pada scolex terdapat alat kait (rostellum)  dan 4 buah alat  isap (sucker) untuk melekat pada  dinding usus.  Abdomen terdiri  atas ruas–ruas  yang masih semu (Pseudosegmen). Tiap ruas dinamakan proglotid,  yang  didalamnya terdapat sistem syaraf, respirasi, ekskresi,  pencernakan, dan reproduksi. Proglotid  yang tersusun secara tidak beraturan dinamakan strobilasi.
  • Tubuh  dilapisi  kutikula yang tebal, dan tidak  memiliki silia.
  • Belum memiliki mulut dan alat pencernakan yang nyata.
  • Reproduksi secara  vegetatif dengan fragmentasi proglotid, dan secara generatif dengan perkawinan. Tiap proglotid memiliki ovarium     dan testis, jika terjadi pembuahan ribuan telur dalam proglotid mengandung embrio (onkosfer).
Contoh :
  • Taenia solium,  hidup pada usus manusia dan sebagai hospes adalah daging babi.  Siklus hidupnya :  proglotid yang  dewasa keluar lewat feces dan mengandung larva ankosfor, dan menempel pada tanaman. Bila termakan oleh babi akan tumbuh menjadi heksakant. Heksakant menembus dinding  usus  masuk ke aliran darah, kemudian ke dalam otot atau jaringan lain pada babi menjadi sistiserkus.  Bila sistiserkus dalam daging hewan ternak babi termakan manusia akan menetas menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia.





Novel

   Ada beberapa novel yang menarik buat dibaca saat waktu kosong kamu, Novel yang bergenre drama ini seru banget buat dibaca, let's check!

Jingga Dan Senja
 Judul : Jingga dan Senja
Pengarang : Esti Kinasih
Tahun terbit : 2010
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal :312 halaman
Kategori : Fiksi, Novel, Romantic
Ukuran : 13.5 cm x 20 cm
Harga : Rp 42.000,-

Sinopsis:

Tari dan Ari, dua remaja yang dipertemukan oleh takdir. Selain bernama mirip, mereka juga sama-sama lahir sewaktu matahari terbenam.

Namun, takdir mempertemukan mereka dalam suasana "perang". Ari yang biang kerok sekolah baru kali ini bertemu cewek, adik kelas pula, yang berani melawannya. Kemarahan Ari timbul ketika tahu Tari diincar oleh Angga, pentolan SMA musuh.
Angga, musuh bebuyutan sekolah Ari sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu cewek itu tak sengaja terjebak dalam tawuran dan Ari berusaha keras menyelamatkannya. Demi dendam pada masa lalu, Angga bertekad harus bisa merebut cewek itu. Memanfaatkan peluang yang ada, Angga kemudian maju sebagai pelindung Tari.

Ari yang selama ini dikenal tidak peduli terhadap cewek tiba-tiba saja berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Namun, predikat buruk Ari jelas membuat Tari tidak ingin berurusan dengan cowok itu.

Semakin Ari berusaha mendekatinya, semakin mati-matian Tari menjauhkan diri....
 
Jingga Dalam Elegi
·  Pengarang               :    Esti Kinasih
·  Genre                      :    Drama
·  Tebal                       :    392 hlm ; 20 cm
·  Penerbit                   :    Gramedia
·  Harga                      :    50.000 IDR
·  Pertama terbit          :    2011
·  Cetakan ke-4            :    Mei 2011

Sinopsis
Sejak peristiwa pagi hari saat melihat mata Tari bengkak, Ari jadi penasaran. Benarkah itu hanya karena Ari menghapus nomor HP Ata dari HP Tari, ataukah karena Angga? Kalau memang karena Angga yang notabene musuh bebuyutan Ari, Ari ingin tahu apa yang telah dilakukan cowok itu terhadap Tari.

Setelah menemukan a shoulder to cry on pengganti Angga dalam diri Ata, perlahan-lahan Tari mulai melupakan Angga. Sikap Ata yang bertolak belakang dengan Ari membuat Tari nyaman bersama Ata. Ia pun curhat habis-habisan kepada Ata yang lembut, penuh perhatian, baik hati, dan yang baru belakangan Tari sadari berhasil membuat jantungnya berdebar tak keruan. Gangguan dan intimidasi Ari sampai tidak diacuhkannya. Inilah yang membuat Ari makin salah tingkah-kini saingannya bukanlah Angga, melainkan saudara kembarnya sendiri.

Namun, saat Tari merasa telah menemukan pelabuhan hatinya, satu rahasia besar perlahan-lahan terkuak.

Tari merasa... lambat laun Ata semakin mirip Ari....
   Dari dua novel diatas novel ketiganya dari novel triloginya diharapkan terbit secepatnya oleh para penggemar novel ini, akan tetapi cover dari novel ketiga nya sudah muncul yang berjudul Jingga Untuk Matahari